Haritsah bin Nu’man, Sahabat Dermawan yang Memuliakan Sang Ibu
Almansors – Haritsah bin Nu’man merupakan sahabat Nabi Muhammad ﷺ dari kalangan Anshar. Ia berasal dari Bani Najjar, bagian dari kabilah Khazraj di Madinah. Selain dikenal dengan panggilan Abu Abdullah, Haritsah dikenang melalui baktinya kepada ibu dan kemurahan hatinya. Kisahnya memperlihatkan bahwa pengabdian dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ada keberanian mendampingi perjuangan, tetapi ada pula kesediaan menyediakan tempat tinggal dan membantu orang yang membutuhkan. Karena itu, perjalanan hidupnya menarik untuk dibaca sebagai cerita tentang kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan.
Bakti kepada Ibu Menjadi Keutamaan yang Menonjol
Di antara keutamaan Haritsah, baktinya kepada ibu mendapat perhatian khusus dalam riwayat tentang dirinya. Ia dikenal sebagai orang yang sangat memuliakan sang ibu. Sikap tersebut mengingatkan bahwa kedekatan dengan kehidupan keagamaan perlu berjalan bersama perhatian kepada keluarga. Namun, riwayat yang tersedia tidak menjelaskan seluruh kebiasaan hariannya secara terperinci. Karena itu, kita tidak perlu menambahkan percakapan atau tindakan yang tidak diketahui. Pesan utamanya sudah kuat: menghormati orangtua merupakan bagian penting dari akhlak yang membuat Haritsah dikenang.
Riwayat Bacaan Al-Qur’an Menunjukkan Keutamaannya
Dalam riwayat dari Aisyah, Rasulullah ﷺ menceritakan mimpi ketika beliau berada di surga dan mendengar seseorang membaca Al-Qur’an. Ketika beliau bertanya, pembaca tersebut disebut sebagai Haritsah bin Nu’man. Riwayat itu kemudian menghubungkan keutamaannya dengan bakti kepada ibu. Kisah ini memberi penekanan pada nilai birr, yaitu kebajikan yang mencakup penghormatan dan perlakuan baik. Dengan demikian, perhatian kepada orangtua tidak ditempatkan sebagai urusan kecil. Ia menjadi bagian penting dari gambaran keteladanan Haritsah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Rumah di Madinah Menjadi Sarana untuk Membantu
Riwayat sejarah menyebut Haritsah memiliki beberapa rumah di sekitar kediaman Rasulullah ﷺ di Madinah. Ia bersedia menyediakan tempat tinggal untuk kebutuhan beliau dan keluarganya. Bahkan, kisah tersebut menggambarkan kesediaannya berpindah agar rumahnya dapat digunakan. Dari sudut pandang sosial, bantuan berupa tempat tinggal mempunyai dampak yang besar. Rumah memberi ruang untuk beristirahat, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, kemurahan hati Haritsah tidak hanya tampak melalui pemberian barang. Ia membantu memenuhi kebutuhan yang mendasar.
Menyediakan Kediaman bagi Ali dan Fatimah
Salah satu kisah yang dikenal berkaitan dengan rumah untuk Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Dalam riwayat sejarah tersebut, Rasulullah ﷺ menginginkan Fatimah tinggal lebih dekat dengan beliau. Setelah mengetahui kebutuhan itu, Haritsah menawarkan kediamannya. Cerita ini menggambarkan kepedulian yang tidak menunggu permintaan panjang. Namun, detail percakapan dalam kisah sejarah sebaiknya tetap dibaca sebagai bagian dari riwayat, bukan ditambah dengan dramatisasi. Pelajaran yang dapat diambil ialah kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dan kesediaan memberi bantuan yang sesuai kemampuan.
Baca Juga : Misteri Kota Tua yang Hilang Ditelan Waktu, Jejak Sunyi dalam Cerita Rakyat
Kedermawanan Terlihat melalui Kesediaan Berbagi
Kisah rumah Haritsah menawarkan cara pandang yang menarik tentang kepemilikan. Sesuatu yang dimiliki dapat memberikan manfaat lebih luas ketika dibagikan. Meski demikian, keteladanan ini tidak berarti setiap orang harus memberikan rumahnya kepada orang lain. Bentuk bantuan tentu mengikuti keadaan masing-masing. Ada yang mampu menyediakan tempat, sementara orang lain dapat berbagi makanan atau waktu. Oleh karena itu, nilai yang relevan ialah kemurahan hati dan perhatian terhadap kebutuhan nyata. Bantuan menjadi bermakna ketika benar-benar meringankan kehidupan penerimanya.
Tetap Bersedekah ketika Penglihatannya Berkurang
Pada akhir kehidupannya, Haritsah dikisahkan mengalami kebutaan. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan kebiasaannya membantu orang miskin. Riwayat biografinya menceritakan sebuah tali yang menghubungkan tempat salat dengan pintu kamar. Ia menggunakan tali itu sebagai penuntun untuk menyerahkan makanan secara langsung. Gambaran tersebut terasa menyentuh karena menunjukkan usaha menyesuaikan diri dengan keterbatasan. Alih-alih berhenti berbagi, Haritsah mencari cara agar tetap dapat melakukannya. Kisah ini mengingatkan bahwa kepedulian sering bertahan melalui langkah sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Memberi secara Langsung Menghadirkan Kedekatan
Dalam kisah sedekahnya, keluarga Haritsah menawarkan bantuan untuk menyerahkan pemberian kepada orang yang membutuhkan. Namun, ia tetap ingin terlibat langsung. Sebagai refleksi, keterlibatan seperti ini dapat membuat bantuan terasa lebih personal. Penerima tidak hanya memperoleh makanan, tetapi juga perhatian dari orang yang memberikannya. Meski demikian, menyerahkan bantuan melalui keluarga atau lembaga tetap dapat menjadi pilihan yang baik. Keteladanan Haritsah terletak pada semangat melayani. Cara pelaksanaannya dapat menyesuaikan kondisi, selama menjaga manfaat dan martabat penerima.
Jejak Keteladanan yang Melampaui Masa Hidupnya
Haritsah bin Nu’man disebut wafat pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Namun, kisah baktinya kepada ibu dan kebiasaannya berbagi terus menjadi bagian dari ingatan sejarah Islam. Kedua sisi tersebut memperlihatkan hubungan antara kepedulian di rumah dan perhatian kepada masyarakat. Bagi pembaca masa kini, teladannya dapat diterapkan melalui tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menemani orangtua, memperhatikan tetangga, dan membantu sesuai kemampuan merupakan langkah yang bermakna. Kisah Haritsah mengajak kita memberi tempat bagi kebaikan dalam rutinitas, bukan hanya dalam niat.